Loading...

Sabtu, 26 Maret 2011

STUDI KRITIS PEMIKIRAN TAUFIK ADNAN AMAL TENTANG SEJARAH AL-QUR'AN

A.      Latar Belakang Masalah
Bangsa Arab sebelum datangnya agama Islam berada dalam masa-masa kebodohan dan kegelapan baik dalam kepercayaan ataupun tingkah laku. Oleh karena itu sejarah kebudayaan dan peradaban bangsa Arab pra Islam lebih dikenal dengan istilah kebudayaan dan peradaban Arab Jahiliyah. Secara umum pengertian masa Jahiliyah merupakan masa dimana kehidupan manusia berada dalam kebodohan, kehinaan dan kenistaan dalam berbagai hal, sehingga peradaban yang dimiliki manusia pada masa tersebuat adalah peradaban yang tidak bermoral dan tidak memiliki nilai-nilai kemanusiaan[1].
Jazirah Arab sangat terisolasi, baik dari sisi daratan maupun lautan. Kawasan ini, tempatnya Muhammad tampil denganpekabaran Ilahinya pada abad ke-7 perhitungan tahun Masehi. Sejarah dunia yang besar telah jauh meninggalkannya. Perselisihan antar berlangsung dalam skla besar-besaran di stepa-stepa Jazerah tersebut. Dari sudut pandang negara-negara adikuasa, Arabia merupakankawasan terpencil dan biadab, sekalipun memiliki posisi yang cukup penting sebagai kawasan penyangga dalam ajang perebutan kekuasaan politik di Timur Tengah, yang ketika itu didominasi dua imperium raksasa: Bizantum dan Persia[2].
Al-Qur’an memang tergolong ke dalam sejumlah kecil kitab suci yang memiliki pengaruh amat luas dan mendalam terhadap jiwa manusia. Kitab ini telah digunakan kaum Muslimin untuk mengabsahkan prilaku, menjustifikasi tindakan peperangan, melandasi berbagai aspirasi, memelihara begbarbagai harapan, dan memperkukuh identitas kolektif. Ia juga digunakan dlam kebaktian-kebaktian publik dan pribadi kaum Muslimin, serta dilantungkan dalam berbagai acara resmi dan keluarga. Pembacaannya dipandang sebagai tindak kesalehan dan pelaksanaan ajarannya merupakan kewajiban setiap Muslim[3].
Lima belasa abad yang silam tepatnya pada malam senin tanggal 17 Ramadhan atau 6 Agustus 610 M, salah satu keturunan Bani Hasyim bernama Muhammad ibn ‘Abdil Mutalib menerima wahyu al-Qur’an yang pertama kalinya di gua Hira[4]. Kegelisahan yang menyelimuti dirinya karena tidak tahan melihat berbagai macam krisis sosial yang ada pada waktu itu mendorong Muhammad untuk melakukan tahannus di gua tersebut hingga pada akhirnya Malaikat Jibrilmendatanginya dengan membawa wahyu yaitu surat al-Alaq ayat 1-5[5].
Sejumlah pengamat Barat memandang al-Qur’an sebagai suatu kitab yang sulit dipahami dan diapresiasi. Bahasa, gaya, dan aransemen kitab ini pada umumnya telah menimbulkan masalah khusus bagi mereka. Masa pewahyuan yang terbentang sekitar dua puluh tahunan, merefleksikan perubahan-perubahan lingkungan, perbedaan gaya dan kandungan, bahkan ajarannya. Sekalipun bahasa Arab yang digunakannya mudah dipahami, terdapat di dalamnya yang sulit dipahami[6]. Umat Islam pada masa Rasulullah SAW masih hidup selalu membiasakan diri dengan senantiasa membaca al-Qur’an. Mereka berusaha untuk benar-benar memahami isi kandungan al-Qur’an dengan mempergunakan kemampuan Insting bahasa Arab murni yang dimiliki. Meski demikian mereka tetap merujuk kepada Rasulullah SAW manakala mereka menemukan kesulitan-kesulitan pada saat memahami maksud dari kandungan al-Qur’an tersebut[7]. Tradisi penulisan al-Qur’an itu sendiri bermula pada sejak Nabi Muhammad SAW menugaskan orang-orang tertentu untuk menulis dan mengahafalkan wahyu al-qur’an ketika turun, serta yang dibacakan oleh rasulullah. Mereka terkenal sebagai para penulis wahyu (kuttab al-wahy).
Pewahyuan al-Qur’an -yang kemudian membentuk kitab suci kaum Muslimin- disampaikan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad selama 23 tahun, selaras dengan perkembangan misi kenabiannya. Namun ketika wahyu-wahyu tersebut dikodifikasi atau “dikumpulkan” pentahapan pewahyuan ini tidak tercermin di dalamnya. Meskipun demikian, sejak abad-abad pertama Islam para sarjana Muslim telah menyadari urgensi pengetahuan tentang penanggalan atau aransemen kronologis bagian-bagian al-Qur’an dalam rangka memahami pesan kitab suci tersebut. Abu al-Qasim al-Hasan ibn Habib al-Naisaburi, sebagaimana dikuti al-Suyuthi, misalnya menegaskan seseorang tidak berhak berbicara tentang al-Qur’an tanpa bekal kronologi pewahyuan yang memadai[8]. Mengenai al-Qur’an, umat islam pada prinsipnya menerima kitab suci tersebut ntuk pedoman dan rujukan dalam berbagai persoalan keagamaan dan ilmu pengetahuan, disamping itu juga ia diyakini sebagai yang memiliki nilai normatif mutlak, sedangkan hadits Nabi menduduki ranking kedua setelah al-Qur’an.
Keseluruhan isi Al-Qur’an diturunkan oleh Allah Swt pada manusia melalui perantaraan wahyu-wahyu yang disampaikan kepada Muhammad Saw, menurut mayoritas ulama, dalam kurun waktu 22 tahun, 22 bulan, dan 22 hari. Pakar tafsir Al-Qur’an M Quraish Shihab membagi kurun waktu yang cukup panjang itu ke dalam tiga periode, yaitu :
Periode pertama, berlangsung sekitar 4-5 tahun dan diawali dengan turunnya wahyu pertama QS Al-Alaq :1-5. Kandungan surat-surat Al-Qur’an yang diturunkan dalam periode ini umumnya berisikan pendidikan bagi Rasul Saw dalam membentuk kepribadian beliau sebagai utusan Allah SWT, pengetahuan-pengetahuan dasar mengenai sifat dan af’al Allah, serta keterangan mengenai dasar-dasar akhlak Islami dan bantahan secara umum terhadap pandangan hidup jahiliyyah yang dianut oleh masyarakat Arab pada masa itu.
Dalam periode awal ini, Rasulullah SAW melakukan dakwah secara tertutup di lingkungan komunitas terbatas dan hasilnya adalah segolongan kecil masyarakat menerima dengan baik ajaran al-Qur’an, mayoritas menolak karena kebodohan atau kekukuhan mereka mempertahankan tradisi leluhur, atau karena sebab-sebab lain yang bersifat personal, dan dalam kurun waktu ini, dakwah al-Qur’an telah melampaui perbatasan Mekah menuju daerah-daerah di sekitarnya.
Periode kedua, berlangsung selama 8-9 tahun., pada periode inilah terjadi konfrontasi frontal antara masyarakat penganut Al-Qur’an versus masyarakat jahiliyyah. Fitnah, intimidasi, dan penganiayaan fisik terhadap umat Islam memaksa mereka berhijrah ke Habsyah dan akhirnya seluruh Muslimin, termasuk Rasul Saw, hijrah ke Medinah. Ayat-ayat Qur’an yang turun pada periode ini bersikan kecaman dan ancaman keras terhadap kaum musyrikin juga argumentasi-argumentasi mengenai keesaan Allah serta kepastian akan datangnya hari Kiamat.
Periode ketiga, berlangsung selama 10 tahun dan merupakan masa dimana para pemeluk Islam telah dapat secara merdeka melaksanakan ajaran-ajaran agama mereka di Yatsrib. Ayat-ayat yang turun dalam periode ini berisikan pedoman kemasyarakatan Islami, pelarangan terhadap perbuatan-perbuatan keji berikut dampak negatif yang menyertainya, tuntunan akhlak mulia, panduan dakwah dan toleransi sosial.
Jibril menyampaikan wahyu kepada Rasul Saw dengan berbagai cara (Machmud Ranusemito, 2000); antara lain dengan mewujudkan diri sebagai manusia, mentransfer langsung ke qalbu Rasulullah SAW, atau dalam bentuk suara gemerincing ke pendengaran beliau. Dua cara terakhir ini sangat berat hingga diriwayatkan Nabi SAW sampai banjir keringat saat menerimanya. Wahyu yang diturunkan langsung terhafal oleh Rasulullah SAW dan disampaikan kepada para sahabat beliau yang langsung menghafalkannya juga.
Keajaiban lain dalam proses penurunan ayat-ayat Qur’an adalah tidak langsung tersusun dalam satu surat. Berulangkali terjadi satu surat baru lengkap ayat-ayatnya setelah diselingi turunnya surat-surat lain (Machmud Ranusemito, 2000). Misalnya, surat Al-Alaq yang terdiri dari 19 ayat, setelah turun 5 ayat pertama setelah disela terdahulu oleh turunnya surat Al-Fatihah dan surat / ayat lain sebelum utuh menjadi 19 ayat. Surat Al-Baqarah yang terdiri dari 286 ayat konon turun di Medinah dan baru lengkap seluruh ayatnya setelah 9 tahun berlalu. Sementara surat Al-Ma’idah yang turun di Medinah, salah satu ayatnya (QS 5:3) diwahyukan di Arafah pada saat khutbah Haji Wada’.
Lantas bagaimana surat-surat yang ayat-ayatnya tidak diturunkan secara berurutan itu bisa disatukan dengan utuh dan tepat? Adalah Jibril yang memberitahukan sistematika penyusunan surat pada Rasulullah SAW, salah satunya dengan metode mudarasah (bergantian membacakan dan mendengarkan Al-Qur’an) secara intensif pada malam-malam Ramadhan yang berlangsung sampai menjelang wafatnya Rasulullah SAW. Dengan demikian tak ada peluang untuk terjadinya kekeliruan sekecil apapun, apalagi karena Rabb Azza wa Jalla telah memaklumatkan Diri sebagai penjaga Al-Qur’an sampai akhir zaman[9].
Dengan sedikit pemaparan diatas yang perlu kiranya diadakan penelitian kembali tentang pewahyuan al-Qur’an dalam perpektif Taufik Adnan Amal, yang notabennya dia banyak mengutip pandangan-pandangan sarjana barat tentang sejarah al-Qur’an dan hal-hal yang berkaitan dengan al-Qur’an, dengan judul “Studi Kritis Pemikiran Taufik Adnan Amal Tentang Sejarah Al-Qur’an”
B.       Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut:
1.    Bagaimana pandangan Taufik Adnan Amal terhadap pewahyuan al-Qur’an?
2.    Bagaimana sistematika pewahyuan al-Qur’an menurut Islam?
C.      Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.    Tujuan penelitian
a.       Mengetahui pandangan Taufik Adnan Amal tentang pewahyuan al-Qur’an.
b.      Mendiskripsikan sistematika pewahyuan al-Qur’an menurut Islam.

2.      Manfaat penelitian
a.       Dapat memberi kontribusi kepada studi al-Qur’an khususnya dalam hal sejarah al-Qur’an.
b.      Untuk menambah khazanah keilmuan dan wawwasan bagi penulis khususnya dan bagi masyarakat pada umumnya.
D.      Telaah Pustaka
Kajian pustaka berikut, dimaksudkan sebagai salah satu kebutuhan ilmiah yang berguna untuk memeberikan kejelasan dan batasan pemahaman informasi yang berguna dan diteliti melalui khazanah dan seputar jangkauan yang didapatkan untuk memperoleh kepastian orisinilitas dari tema yang akan dibahas. Sehubungan dengan tema diatas maka penulis dalam melakukan telaah pustaka ini terlebih dahulu mencantumkan buku Taufik Adnan Amal, kemudian buku-buku yang banyak berkaitan dengan pewahyuan al-Qur’an, baik dari buku-buku karya para orientalis maupun karya para cendikiawan muslim sebagai sumber data primer, serta karya-karya yang sekiranya ada relevansinya dalam penulisan skripsi ini, yaitu:
Pertama, skripsi karya Supriyatmoko Sejarah al-Qur’an Versi Syi’ah 2008, dalam skripsi ini penulis membahas tentang sejarah al-Qur’an yang banyak beredar dikalangan Syi’ah, serta membahas bentuk-bentuk wahyu dan proses turunnya al-Qur’an. Sehingga banyak sedikitnya berkaitan dengan judul penelitian yang akan kami bahas.
Kedua, Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah al-Qur’an, diterbitkan oleh Forum Kajian dan Agama (FKBA) Yogyakarta, salah satu keistimewaan buku ini menurut Prof. M. Quraish Sshihab adalah materi yang terkandung didalamnya penuh kontroversi. Hal ini disebabkan oleh kadar kutipan yang diambil dari sarjana Barat lebih banyak dari pada karya-karya ulama Islam. Menurut Taufik Adnan Amal buku-buku yang berbicara mengenai historigrafi al-Qur’an sebenarnya telah banayak dilakukan, baik dari kalangan orang Islam maupun orang Barat. Namun, karya-karya muslim pada umumnya ditulis mengikuti sudut pandang ortodoksi Islam yang rentan terhadap kritik sejarah[10]. Kajian tentang perjalanan historis al-Qura’an ini dituangkan dalam tiga bagian utama. Bagian pertama akan mengungkapkan asal-usul dan pewahyuan al-Qur’an. Bagian ini terdiri dari tiga bab: bab pertama berupaya meletakkan al-Qur’an dalam latar kesejarahannay, baik dalam konteks situasi sosio-politik serta religius Arabia menjelang dan pada saat pewahyuan al-Qur’an, maupun dalam konteks kehidupan Nabi Muhammad sendiri. Bab kedua berupaya menelusuri asal-usul al-Qur’an dari gagasan kitab suci tersebut dan gagasan-gagsan lain yang berupaya memberikan gambaran mengenainya. Pembicaraan tentang asal-ususl al-Qur’an akana menegarah pada diskusi tentang hubungan wahyu ilahi dan Nabi yang juga dibahas dalam bab ini. Smentara pewahyuan bagian-bagian al-Qur’an, yang menelaah secara kronologis sekuensi pewahyuan menurut berbagai sudut pandang, akan dikemukakan dalam bab tiga.
Ketiga, Manna’ Khalil al-Qattan, Mabahis fi ‘Ulumil al-Qur’an, secara umum berbicara mengenai ‘Ulum al-Qur’an dimulai dengan pembahasan defenisi ‘Ulum al-Qur’an hingga pada masa pembahasan riwayat hidup beberapa Mufassir. Mengenai sejarah al-Qur’an, Manna al-Qattan, menuangkan dalam bab Jam’u al-Qur’an wa Tartibuhu. Dalam bab ini dibahas mengenai pengumpulan al-Qur’an dalam arti penulisannya pada zaman Nabi Muhammad sampai pada pembahasan Rasm ‘Usmani.
E.       Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode kepustakaan (library research) yaitu dengan cara menelusuri dan menelaah buku-buku yang ada relevansinya dengan penelitian ini. Penelitian ini terdiri dari proses pengumpulan data dan pengolahan data. Adapun pengumpulan data dilakukan dengan cara mengkaji dan menelaah berbagai buku yang mempunyai relevansi dengan kajian yang sedang diteliti.
Sesuai dengan pokok bahasan dalam penelitian ini, yaitu sejarah pewahyuan al-Qur’an dalam perpektif Taufik Adnan Amal, maka peneliti menggunakan beberapa sumber kepustakaan, baik sumber primer maupun sumber sekunder. Buku yang menjadi sumber primer adalah buku karya beliau “Rekonstruksi Sejarah al-Qur’an” dan sumber sekundernya adalah buku-buku yang berkaitan dengan sejarah-sejarah al-Qur’an dan pewahyuan al-Qur’an.
Sementara untuk mempermudah penjelasan tentang riwayat hidup dan latar belakang keilmuan Taufik Adnan Amal, peneliti menggunakan analisa historis biografis.
Dalam pengolahan data, peneliti menggunakan metode:
a.    Metode deduktif. Yaitu pengambilan dari pernyataan yang bersifat umum ke suatu pernyataan yang bersifat khusus.[11]
b.    Metode induktif. Yaitu suatu penarikan kesimpulan dari pernyataan yang bersifat khusus ke suatu pernyataan yang bersifat umum.[12]
Sedangkan dalam melakukan analisis data, peneliti menggunakan :
a.    Metode komparatif. Yaitu membandingkan suatu data dengan data lain atas suatu masalah yang sama.
b.    Metode deskriptif. Yaitu melakukan deskripsi berdasarkan data-data yang terkumpul untuk menghasilkan sebuah gambaran (penjelasan) obyektif yang cukup komprehensif atas kajian yang peneliti lakukan.


F.       Daftar Pustaka
Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah al-Qur’an (Yogyakarta: Forum Kajian Budaya dan Agama, 2001),
Mansyur, Peradaban Islam Dalam Lintas Sejarah (Yogyakarta: Global Pustaka Utama, 2004),
Muhammad Hasbi ash-Shidiqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2000),
Manna Khalil al-Qattan, Mabahis fi ‘Ulumil al-Qur’an (Bairut: Mansyurat al-‘Asr al-Hadits, 1973)
Ayatullah Muhammad Daqir Hakim, ‘Ulumul Qur’an, terjemah, Nashirul Haq, dkk (Jakarta: al-Huda. 2006)





[1] Mansyur, Peradaban Islam Dalam Lintas Sejarah (Yogyakarta: Global Pustaka Utama, 2004), hlm. 13.
[2] Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah al-Qur’an (Yogyakarta: Forum Kajian Budaya dan Agama, 2001), hlm. 9.
[3] Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah al-Qur’an (Yogyakarta: Forum Kajian Budaya dan Agama, 2001), hlm. 2.
[4] Muhammad Hasbi ash-Shidiqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’an dan tafsir (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2000), hlm.24.
[5] Manna Khalil al-Qattan, Mabahis fi ‘Ulumil al-Qur’an (Bairut: Mansyurat al-‘Asr al-Hadits, 1973) hlm. 119.
[6] Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah...,hlm. 3.
[7] Ayatullah Muhammad daqir Hakim, ‘ulumul Qur’an, terj, Nashirul Haq, dkk (Jakarta: al-Huda. 2006) hlm. 9.
[8] Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah...,hlm. 81.
[10] Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah...,hlm. 2.
[11] Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah, Dasar, Metode Dan Tekhnik, (Bandung: Tarsito, 1984), edisi VII, hlm. 134.
[12] Sutrisno Hadi, Metodologi Research, (Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM,1985), cet.XVII,I: hlm. 42.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar